Hal tersebut terlihat dari hasil survei yang dilakukan SMRC secara nasional pada 22-28 November. Dari 1012 responden yang diwawancarai, 46,8 persen menyatakan memilih Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
"Mereka ini mayoritas menyatakan tidak puas dengan kinerja Presiden Jokowi. Mencapai 55 persen (dari 46,8 persen). Sementara yang menyatakan puas 44 persen," tutur Saiful saat merilis hasil survei SMRC, Kamis (8/12).
Dari total 46,8 persen responden yang memilih Prabowo-Hatta pada pilpres 2014 kata Saiful, mayoritas juga menyatakan tidak yakin akan kemampuan presiden memimpin. Mencapai 49 persen. Sementara yang yakin hanya 45 persen.
"Responden yang sebelumnya memilih Prabowo-Hatta pada pilpres, juga mayoritas menyatakan opini setuju Basuki Tjahaja Purnama menista agama," tutur Saiful.
Persentasenya mencapai 65 persen dari total 46,8 persen responden yang memilih Prabowo-Hatta pada pilpres lalu.
"Karena itu kami menyimpulkan, sumber delegitimasi pada kepemimpinan nasional, secara umum tidak ada yang baru. Berakar dari pembelahan politik sisa persaingan pilpres 2014. Demikian juga sentimen terhadap Ahok," tutur Saiful.
Selain itu, SMRC juga menyimpulkan, mayoritas publik sebenarnya tidak tahu persis ucapan Ahok terkait surat Almaidah ayat 51.
Namun tetap ada yang memberikan
penilaian negatif. Hal tersebut antara lain diakibatkan adanya
mobilisasi opini, terutama lewat media sosial.
Survei SMRC digelar secara nasional dengan melibatkan responden yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Dari total 1220 responden yang dipilih secara random, responden yang dapat diwawancarai secara valid mencapai 1012 orang.
"Margin of errror 3,1 persen, pada
tingkat kepercayaan 95 persen. Responden terpilih diwawancarai lewat
tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih," pungkas Saiful. (jpnn.com)
